|
Written by Webmaster
|
Ibunya salah satu perempuan wakil rakyat pertama di Konstituante Dibesarkan sejak balita ditengah rapat-rapat organisasi masyarakat Ditiup “aura” kiai-kiai khos, menjangkau langit spiritualitas yang “gaul” Pancaran universalitas humanisme yang tidak “milik” satu pihak
Niam Muiz dibesarkan dalam keluarga sederhana yang orangtuanya hidup dalam pergerakan sosial masa tahun 50-80an. Ayahnya adalah seorang pemimpin organisasi sosial keagamaan yang cukup disegani diwilayah Jawa Barat pada masa itu, demikian pula dengan ibunya yang menjadi salah seorang perempuan pertama yang menjadi wakil rakyat (sejak jaman Konstituante tahun 50an hingga menjadi anggota DPR-RI periode 1982) dari partai keagamaan . Kakek dan buyutnya adalah kyai khos yang makamnya harus dibentengi agar tidak dikeramatkan para santri dan peziarah.
Menceritakan masa kecilnya, Niam Muiz sudah terbiasa mendengarkan orang dari berbagai lapisan berdiskusi dalam rapat-rapat hingga larut malam di rumahnya. Niam kecil pada waktu itu menyimak dari balik bilik kamarnya. Manakala banyak kiai kolega ayahnya berkunjung, ia suka menyalami mereka. Yang paling diingat hingga kini adalah bahwa ujung kepalanya sering ditiup dan didoakan oleh para kiai khos itu. Menghormati kalangan itu, ia meyakini bahwa aura doa itulah yang hingga sekarang “didengarkan langit” menajamkan kegiatan professional dikemudian hari.
Lucunya karir organisasi dalam lingkungan itu hanya berujung diakhir masa remajanya. Lebih menarik lagi, ketika ia sudah menyandang profesi pengembangan SDM, ia sempat aktif sekaligus pada dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Padahal paradigma kedua organisasi tersebut sering berseberangan. Hal belakangan inilah yang membuat ia tidak menjadi “milik” satu pihak, dan pemikirannya mengatasi paradigma disudut kelompok tertentu.
Doa yang seringkali dibawakan menutup event tertentu (yang bahkan tidak spesifik relegius) adalah demikian universal, dapat mengucurkan air mata pemeluk agama manapun. Ia bukan kiai, tidak juga agamawan. Namun ia sangat menyukai menyentuh hati humanitas tanpa harus berdiri pada menara gading predikat keagamaan, menjangkau langit spiritualitas yang “gaul”. Jauh dari eksklusivisme, karena “Tuhan itu cukup didekati dengan common sense” katanya, sebagaimana kita harus menjauhi setan secara common sense saja.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 12 March 2008 )
|