| Written by Webmaster | |
|
Saya Niam Muiz. Dibesarkan di Bandung sejak saya lahir diawal ‘60an oleh kedua orangtua saya yang hidup dalam pergerakan masyarakat. Mengucapkan selamat tinggal pada kota kesayangan setelah lulus SMA untuk meneruskan pendidikan ke Universitas Indonesia tahun 1981, merupakan momentum menyadari bahwa pilihan sangat decisive dalam kehidupan. Saya demikian menghormati ibu saya termasuk berdasarkan perspektif bahwa ia sangat meleluasakan saya menentukan pilihan, betapapun manakala ia menyimpan kecemasan apakah anak satu-satunya memiliki cukup fundamen dalam meng-assess tiap pilihannya. Ketika 80% teman sekelas saya dari SMA yang terkenal mampu menjebol pintu ITB, maka saya mensiasati persaingan dengan memilih UI sebagai batu loncatan menuju hidup dewasa. Ketika saya ragu apakah ibu saya mengerti definisi psikologi sebagai suatu disiplin, ketimbang dokter dan insinyur yang pernah diidamkan untuk anak tersayangnya, maka sebaliknya ia tidak ragu untuk tersenyum lebar mensupport pilihan remaja. Pilihan berikutnya ketika lulus Sarjana Psikologi, adalah berusaha beda dalam teknik melamar pekerjaan. Manakala sebagian kawan kuliah mempertimbangkan mencari perusahaan dimana banyak kakak kelas telah memiliki jabatan penting, saya memilih perusahaan yang tidak dijumpai kawan sealmamater. Price Waterhouse Siddik Consultant menjadi kiprah pertama menggeluti profesi dibidang Human Resources. Tuhan Maha Pemberi. Peluang dibidang konsultansi terbuka ketika booming property masa itu membuat Bank Tabungan Negara menghadapi tantangan backlog. Industri yang harus dilayani lebih besar daripada kapasitas bank yang masa itu lebih banyak beraliansi dengan Kantor Pos. Jadilah saya, melewati serangkaian training ground yang sangat insightful, menjadi organizational development (OD) specialist. Sebuah istilah yang membiasakan diri dengan restrukturisasi organisasi dengan aneka symptom perubahan didalamnya, jauh sebelum disiplin manajemen dan sains menggunakan kecanggihan istilah business process, reengineering, mapping dan sejenisnya. Kepindahan yang tidak diduga sebelumnya, walaupun belakangan dikenal biasa dalam career ladder konsultan, ke salah satu “big six worldwide consulting firm” (saat itu, awal ‘90an) lainnya menambah khasanah pengetahuan; menjadi executive searcher atau dalam bahasa gaul menjalankan profesi “head hunting”. Beruntung profesi ini mengekspos ragam profil eksekutif dalam rentang yang sangat luas. Lagi-lagi, ditengah tumpukan ratusan CV middle & senior management, saya melihat bahwa CV tak ubah dari sebuah peta perjalananan. Banyak pemiliknya memilih berbelok, tanpa menyadari dampak dari belokan yang dipilih sebelum melihat penghujung jalan berikutnya yang berresiko membuatnya berpindah arah mata angin. Sementara tugas restrukturisasi yang, entah kenapa banyak meluangkan pelayanan pada perusahaan multinasional Jepang dan Eropa, sesuai dengan kebutuhan masa tersebut, membuat pembelajaran merambah pada pada “spesialis restrukturisasi system penggajian”, berdiskusi dalam boardroom hingga berpindah ruang pada konseling dengan tim Serikat Pekerja. Mengenali dua sisi selalu penuh pelangi, apalagi jika dialami dihalaman hubungan industrial. Ketika banyak konsultan menyebutkan tailor made dan solution oriented sebagai promosi, maka pembelajaran saya membuat istilah tersebut sebagai satu-satunya option dalam lapangan yang amat mengilhami ini. We are going nowhere tanpa solusi, dan tidak ada solusi yang standard untuk dinamika perubahan yang amat unik pada masing-masing korporasi. Predikat organization development specialist berujung pada pengalaman bak sebuah buku yang mengkompilasi “penyakit” perusahaan yang mesti diatasi demi survival dan progress. Maka ketika 1992, sebagaimana umumnya nasib baik konsultan dihi-jacked oleh kliennya, sebuah group perusahaan menempatkan saya sebagai Human resources Director untuk 48 anak perusahaan. Saatnya berganti sepatu, dan kali ini berdiri disisi real business. Namun kegembiraan menggeluti dunia “spesialis Human Resources” harus berakhir. Tidak lama kemudian Chairman perusahaan membutuhkan Marketing director. Jadilah si culun pada usia 33 tahun menjadi Marketing Director dengan produk mendunia dan menghasilkan omset hingga 100 juta USD. Saya tidak merasa memiliki prestasi berarti, karena mekanisme market telah tersedia disana. Sungguhpun demikian pembelajaran didalamnya demikian berarti terutama setelah berada diluar posisi tersebut. Pada saat meninggalkan perusahaan tersebut sebagai Chief Operating Officer yang membawahi direktur Marketing dan Direktur Produksi dengan wilayah operasi hingga Amerika Serikat, dua hal yang saya patut syukuri; benih entrepreneurship dan manajemen operasi dalam pergulatan bisnis yang terpupuk oleh pengalaman ini, dan (kembali lagi) betapa luasnya samudera merenungi manusia dengan segala sisinya. Semoga keberkahan senantiasa memayungi kawan-kawan saya dimasa tersebut, karena dari mereka saya mampu meluaskan konsultansi hingga berkursi di Asean Secretariat, dihormati hingga sego-sosha Jepang, dan berkesempatan melayangkan konsep bagi tanah air melalui Bina Graha dimasa tersebut. Namun sejauh-jauh bangau meloncat, kembalinya ke consulting firm juga. Last big six yang dikiprahi pra-krisis moneter adalah Coopers & Lybrand. Tidak cukup lama, karena isyu merger multinasional sedang gempita, dan salah satunya pada dua Consulting firm dimana saya pernah berada. Itulah tanda-tanda zaman, saya harus mendirikan warung sendiri: INSPIRA Consulting. |
|
| Last Updated ( Wednesday, 17 June 2009 ) |
